repository ptiq

Kenabian Maryam dalam Al-Qur’an “Studi Komparasi Tafsȋr Al-Mȋzân dengan Tafsȋr Al-Mishbâh ”

Satria Khresna Wardhana, R. (2025) Kenabian Maryam dalam Al-Qur’an “Studi Komparasi Tafsȋr Al-Mȋzân dengan Tafsȋr Al-Mishbâh ”. Masters thesis, Universitas PTIQ Jakarta.

[thumbnail of Naskah Tesis] Text (Naskah Tesis)
2025-R. SATRIA KHRESNA WARDHANA-2021.pdf - Accepted Version

Download (1MB)

Abstract

Kesimpulan tesis ini adalah Kenabian Maryam dalam Al-Qur’an: Studi Komparatif Tafsîr Al-Mîzân dan Tafsîr Al-Mishbâh. Kenabian merupakan salah satu hal yang prinsipil dalam agama Islam, termasuk didalamnya adalah isu kenabian perempuan. Isu ini menggeliat dalam dunia tafsir, kemudian direspon oleh para ulama dan menghasilkan dua sikap, ada ulama yang mendukung isu tersebut dan ada yang menolaknya, masing-masing kedua kubu tersebut memiliki argumentasi. penelitian ini akan membahas masalah seputar eksistensi isu kenabian perempuan ini dalam tradisi intelektual ulama Islam, kemudian eksistensi isu kenabian Maryam dalam Tafsîr Al-Mishbâh dan Tafsîr Al-Mîzân, dan alasan isu ini bisa sampai dan diakomodir oleh kedua mufassir indonesia.
Hasil dari penelitian ini adalah Pertama, terdapat dua kubu dalam merespon isu kenabian perempuan, ada yang menolak dan ada yang menerima. Adapun yang menolak adalah Abu Muhammad Abdullah bin Ibrahim bin Muhammad bin Abdullah bin Ja’far al-Ashili, Fakhruddin al-Razi, Ibn Katsir, serta al-Qusyairi. Sedangkan yang menerima adalah Abu Bakar Muhammad bin Mawhab al-Tujibi al-Qabri, Ibn Hazm al-Andalusi, Al-Qurthubi, serta Ibn Hajar al-‘Asqalani dengan argumentasi masing-masing. Kedua, isu kenabian Maryam terdapat dalam Tafsîr Al-Mishbâh dan Tafsîr Al-Mîzân ketika membahas Surah Âli-Imrân/3: 42. Ketiga, terdapat dua alasan mengapa isu kenabian Maryam diakomodir dalam Tafsîr Al-Mishbâh dan Tafsîr Al-Mîzân, pertama, kedua pengarang dari tafsir tersebut yaitu M. Quraish Shihab dan Thabathaba’i masing-masing mengusung spirit gender equality. Kedua, karena sifat dari tafsir itu sendiri yang genealogis sehingga sebuah wacana yang masuk dalam dunia tafsir sulit untuk dihapuskan dan dihilangkan.
Peneliti menemukan bahwa Maryam adalah satu diantara banyak perempuan yang disebutkan oleh Al-Qur’an yang memiliki keistimewaan. Para ulama dan mufassir menyebut Maryam memiliki derajat dan kualitas keimanan dan spiritual yang tinggi setara dengan para nabi. Mengenai keistimewaan dan statusnya yang menerima wahyu. Para ulama memiliki ragam pandangan. Selain dianggap sebagai perempuan suci dan agung, sebagian ulama menyebutnya hanya sebatas wali Allah yang memiliki kedudukan tinggi dan merupakan perempuan siddiqah,sebagaimana dikemukakan dalam Tafsîr Al-Mîzân dan Tafsir Al-Mishbâh.
Sementara sebagian ulama lain menyebutnya sebagai nabi dari kalangan perempuan dikarenakan menerima wahyu, maksum, dan juga memiliki keistimewaan berupa kehamilan (Nabi Isa as) tanpa melalui hubungan seksual yang sering disebut mukjizat.
Tesis ini sendiri menegaskan bahwa Maryam bukanlah nabi dari kalangan perempuan, meski ia sendiri memiliki kategori-kategori “kenabian” seperti yang dimiliki para nabi berupa wahyu, kemaksuman, dan mukjizat. Tesis ini menunjukkan bahwa wahyu yang diterima Maryam bukanlah wahyu yang bersifat nubuwwah, melainkan wahyu dalam kategori umum sebagaimana wahyu yang juga diterima oleh lebah. Adapun kemaksumannya mencakup dirinya sebagai manusia suci. Sementara mukijizat kehamilannya bukanlah mukjizat nubuwwah.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode tafsir maudhu’i dan metode analisis-kritis-komparatif dengan pendekatan filosofis-kualitatif.

Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: 200. Agama > 2X1. Al-qur'an dan Ilmu yang Berkaitan
Divisions: Pascasarjana > Tesis > Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Depositing User: Kamir Kamir
Date Deposited: 23 Apr 2026 01:21
Last Modified: 23 Apr 2026 01:21
URI: https://repository.ptiq.ac.id/id/eprint/2048

Actions (login required)

View Item
View Item