repository ptiq

Abdullah Bin Nuh Antara Penggerak Pan-Islamis dan Mufasir Nasionalis

Mansur Abdul Haq, Moh (2025) Abdullah Bin Nuh Antara Penggerak Pan-Islamis dan Mufasir Nasionalis. Masters thesis, Universitas PTIQ Jakarta.

[thumbnail of Naskah Tesis] Text (Naskah Tesis)
2025-MOH MANSUR ABDUL HAQ-2023.pdf - Accepted Version

Download (2MB)

Abstract

Kesimpulan tesis ini adalah nasionalisme bagi Abdullah bin Nuh bukanlah ideologi yang bertentangan dengan Islam, melainkan amanah ilâhi yang sejalan dengan prinsip rahmatan lil-‘âlamîn serta dapat menjadi tangga menuju Pan-Islamisme. Gagasan Pan-Islamismenya bukan sekedar ideologis melainkan strategi praktis untuk menghadapi disintegrasi umat dan tantangan kolonialisme. Selain itu, landasan utama Pan-Islamismenya adalah Ukhuwwah Islâmiyyah yang dipahami sebagai persaudaraan Islam dalam kerangka moral, serta Tadhammun Islâmy yang dimaknai sebagai solidaritas/setiakawan nyata di bidang sosial, politik, ekonomi, dan kemanusiaan. Pemikiran ini terbentuk dari keterlibatannya dalam lingkaran majalah Hadramaut, interaksinya dengan tokoh-tokoh seperti Idrus al-Masyhur al-Alawi dan Muhammad bin Hasyim bin Tohir, serta hubungan dengan jaringan intelektual transnasional seperti Jamiat Kheir dan gagasan pembaruan Islam dari al-Manâr (Muhammad Rasyid Ridha, Muhammad Abduh, dan Jamaluddin al-Afghani). Hal ini menghasilkan corak Pan-Islamisme inklusif, integratif, dan moderat (tetap menghormati kedaulatan negara), dengan toleransi supra-mazhab yang menolak pola formalistik-politis, sebagaimana dipahami kelompok revivalis ekstrem.
Tafsir Tematik Cahaya Al-Qur’an menjadi kontribusi penting dalam khazanah tafsir Indonesia. Tafsir ini bercorak adabi ijtimâ’î, menggunakan metode mawdhû’î, serta bersumber dari bî al-ma’tsûr, dengan gaya penulisan ilmiah yang merefleksikan konteks sosial-politik Indonesia pada dekade 1960-an. Melalui beberapa karya Abdullah bin Nuh, khususnya karya tafsir tersebut, Islam dan Pancasila dipahami sebagai dua entitas yang saling menopang: Islam sebagai kekuatan moral dan spiritual yang memperkokoh Pancasila dalam membangun bangsa yang merdeka, adil, dan bermartabat. Nasionalisme tidak bersifat chauvinistik, melainkan harus didasari nilai keadilan, keterbukaan, dan kemanusiaan yang sekaligus menjaga hubungan harmonis antarbangsa.
Tesis ini memiliki persamaan dengan Abdul Muchit Muzadi (2005), Quraish Shihab (2007), dan Soekarno (2016) yang menyatakan inklusivitas Ukhuwwah dan nasionalisme non-chauvinistik. Tesis ini mengkritik pandangan Agus Salim (2005), Greg Fealy (2007), Burhanuddin Muhtadi (2009), Zulkifli (2013), dan Delphine Alles (2016) yang mengaitkan Abdullah bin Nuh dengan HTI dan Syi’ah.
Tesis ini menggunakan metode kualitatif. Sedangkan teori yang digunakan adalah sosiologi pengetahuan Karl Mannheim.

Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: 200. Agama > 2X1. Al-qur'an dan Ilmu yang Berkaitan
Divisions: Pascasarjana > Tesis > Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Depositing User: Kamir Kamir
Date Deposited: 29 Apr 2026 10:55
Last Modified: 29 Apr 2026 10:55
URI: https://repository.ptiq.ac.id/id/eprint/2064

Actions (login required)

View Item
View Item