repository ptiq

Problematika Komunikasi antara Pemimpin dan Rakyat dalam Perspektif Al-Qur’an (Studi Tafsir Tematik tentang Etika dan Relasi Sosial)

Rahman, Deni (2026) Problematika Komunikasi antara Pemimpin dan Rakyat dalam Perspektif Al-Qur’an (Studi Tafsir Tematik tentang Etika dan Relasi Sosial). Doctoral thesis, Universitas PTIQ Jakarta.

[thumbnail of Naskah Disertatasi] Text (Naskah Disertatasi)
2026-Deni Rahman-2023.pdf - Accepted Version

Download (2MB)

Abstract

Penelitian ini menyimpulkan bahwa problematika komunikasi antara pemimpin dan rakyat dalam perspektif Al-Qur’an tidak semata-mata berkaitan dengan persoalan teknis penyampaian pesan, tetapi berakar pada dimensi etika, moralitas, dan relasi sosial dalam kehidupan masyarakat. Al-Qur’an memandang komunikasi sebagai fondasi penting dalam membangun hubungan sosial yang adil dan harmonis antara pemimpin dan rakyat. Kerusakan komunikasi kepemimpinan sering muncul ketika komunikasi berubah menjadi dominasi kekuasaan, manipulasi informasi, atau praktik komunikasi yang tidak jujur sehingga merusak kepercayaan sosial. Problem komunikasi kepemimpinan dapat dipahami melalui tiga dimensi utama, yaitu problem kekuasaan yang menutup ruang dialog, problem moralitas yang ditandai dengan komunikasi manipulatif, serta problem relasi sosial yang memicu polarisasi dan keretakan sosial. Berdasarkan analisis tersebut, penelitian ini merumuskan model komunikasi pemimpin Qur’ani yang menempatkan komunikasi sebagai amanah moral yang berfungsi membangun kepercayaan, memperkuat kohesi sosial, dan mewujudkan kemaslahatan masyarakat melalui prinsip-prinsip etika komunikasi Qur’ani.
Kesimpulan tersebut diperoleh melalui kajian tafsir tematik terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan komunikasi sosial, kepemimpinan, dan relasi antara pemimpin dan masyarakat. Penelitian ini menghimpun berbagai ayat yang berkaitan dengan konsep komunikasi seperti qaul, lisan, kalam, dan risālah, kemudian dianalisis secara integratif dengan mengkaji konteks ayat, penafsiran ulama klasik seperti Ibn Katsir dan Al-Qurṭubi, serta tafsir kontemporer seperti M. Quraish Shihab. Melalui pendekatan ini ditemukan bahwa Al-Qur’an tidak hanya mengidentifikasi berbagai bentuk kerusakan komunikasi sosial, tetapi juga memberikan prinsip-prinsip etika komunikasi yang berfungsi menjaga harmoni masyarakat. Komunikasi kepemimpinan dalam Al-Qur’an memiliki dimensi moral yang kuat karena berkaitan dengan tanggung jawab amanah seorang pemimpin dalam menyampaikan kebenaran, membangun dialog dengan masyarakat, serta menjaga keseimbangan relasi sosial dalam kehidupan bersama.
Temuan penelitian ini mendukung sejumlah teori komunikasi etis dan kepemimpinan dalam kajian ilmu sosial modern. Dalam teori discourse ethics, Jürgen Habermas menegaskan bahwa komunikasi yang ideal harus dibangun melalui dialog rasional yang terbuka, jujur, dan bebas dari dominasi kekuasaan dalam ruang publik. Prinsip tersebut memiliki kesesuaian dengan konsep musyawarah (syūrā) dalam Al-Qur’an yang menekankan pentingnya komunikasi dialogis dan partisipatif antara pemimpin dan masyarakat. Selain itu, temuan penelitian ini juga memiliki kesamaan dengan teori transformational leadership yang dikembangkan oleh James MacGregor Burns yang menekankan pentingnya komitmen moral pemimpin dalam membangun hubungan yang bermakna dengan para pengikutnya. Dalam perspektif Qur’ani, komunikasi kepemimpinan juga berfungsi sebagai sarana membangun kesadaran moral, memperkuat kepercayaan sosial, serta mendorong transformasi sosial menuju kehidupan masyarakat yang lebih adil dan berkeadaban.
Penelitian ini menolak paradigma komunikasi sekuler. Dalam teori discourse ethics yang dikembangkan oleh Jürgen Habermas, legitimasi etika komunikasi terutama dibangun melalui konsensus rasional yang dicapai dalam ruang publik. Sementara itu, dalam perspektif Qur’ani legitimasi etika komunikasi tidak hanya didasarkan pada konsensus sosial, tetapi juga bersumber dari wahyu yang menuntut tanggung jawab moral manusia di hadapan Tuhan. Perbedaan serupa juga tampak jika dibandingkan dengan pendekatan etika komunikasi yang dikemukakan oleh Clifford Christians yang menekankan prinsip truth telling dan tanggung jawab sosial dalam kerangka humanisme sekuler. Penelitian ini menempatkan etika komunikasi dalam kerangka wahyu yang mengintegrasikan dimensi moral, spiritual, dan sosial secara simultan, sehingga komunikasi kepemimpinan tidak hanya berorientasi pada efektivitas persuasi, tetapi juga pada amanah moral dan kemaslahatan publik.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan tafsir tematik (tafsir maudhu‘i). Metode ini dilakukan dengan menghimpun ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan tema komunikasi antara pemimpin dan rakyat, kemudian dianalisis secara sistematis untuk menemukan konsep-konsep komunikasi yang terkandung di dalamnya. Proses analisis dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu identifikasi ayat-ayat tematik, analisis linguistik terhadap istilah Qur’ani yang berkaitan dengan komunikasi dan kepemimpinan, penelaahan tafsir klasik dan kontemporer, serta integrasi temuan tafsir dengan kajian teori komunikasi sosial. Pendekatan ini memungkinkan peneliti memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai konsep komunikasi kepemimpinan dalam Al-Qur’an. Dengan metode tersebut, penelitian ini berhasil merumuskan model komunikasi pemimpin Qur’ani yang terdiri dari dimensi etika komunikasi, dimensi relasi sosial, dan dimensi transformasi sosial sebagai kerangka konseptual bagi komunikasi kepemimpinan yang berkeadaban dalam kehidupan masyarakat.

Item Type: Thesis (Doctoral)
Subjects: 200. Agama > 2X1. Al-qur'an dan Ilmu yang Berkaitan
Divisions: Pascasarjana > Disertasi > Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Depositing User: Kamir Kamir
Date Deposited: 21 Sep 2026 09:49
Last Modified: 21 Sep 2026 09:49
URI: https://repository.ptiq.ac.id/id/eprint/2144

Actions (login required)

View Item
View Item