repository ptiq

Karakter Kepemimpinan Nabi Musa As dalam Perspektif Al-Qur’an (Analisis Pada Kisah Nabi Musa As)

Hidayatullah, Hidayatullah (2019) Karakter Kepemimpinan Nabi Musa As dalam Perspektif Al-Qur’an (Analisis Pada Kisah Nabi Musa As). Doctoral thesis, Institut PTIQ Jakarta.

[thumbnail of Karakter Kepemimpinan Nabi Musa As dalam Perspektif Al-Qur’an (Analisis Pada Kisah Nabi Musa As)] Text (Karakter Kepemimpinan Nabi Musa As dalam Perspektif Al-Qur’an (Analisis Pada Kisah Nabi Musa As))
2019-HIDAYATULLAH-2015.pdf - Accepted Version

Download (2MB)

Abstract

Kesimpulan disertasi ini adalah: karakter kepemimpinan pada Nabi Musa AS yang mencakup karakter kinerja (karakter utama) seperti visioner, kompeten, integritas, pembaharu, pandai bekerja sama, kredibel, dan informan, dan karakter moral (karakter pelengkap) seperti sabar, problem solver, religius, cerdas, tekad yang kuat, pembelajar dan tawadhu’.
Disertasi ini memiliki kesamaan pendapat dengan Thomas Lickona (1991), Kouzes dan Posner (1993), Robbins (L.1960 M), Hoy, Miskel (1991 M), Guthrie, Spencer (1993), Semiawan, Sondang Siahaan (2010) dan Ki Hajar Dewantara (1889) yang menyerukan kepada upaya penerapan nilai- nilai kepribadian kepemimpinan yang didasari pada pengembangan karakter, penguatan dimensi sosial dan perubahan ke arah yang lebih baik.
Disertasi ini memiliki perbedaan pendapat dengan: 1) Niccolo Machiavelli (L. 1469 M) yang memisahkan antara etika dan politik dalam melaksanakan dan menerapkan nilai-nilai kepemimpinannya. Pemerintah sebagai pemangku institusi kepemimpinan nasional harus menjalankan tugas-tugas negara dengan baik sesuai dengan nilai-nilai kepribadian bangsa sebagaimana yang tertuang dalam Undang-undang Dasar (UUD) 1945 dan Pancasila, 2) Alexander Agung (L. 340 SM) yang berambisius menumpuk harta kekayaan, bertindak brutal, memerintahkan pengikutnya untuk menyembah dirinya dan tidak segan-segan membantai siapa saja yang menentang kekuasaannya. Pemerintah dan semua pemangku jabatan sejatinya hidup dengan karakter kesederhanaan, santun terhadap rakyatnya dan siap mengakomodir aspirasi mereka seluas-luasnya ketika tidak sejalan dengan kebijakannya, 3) Adolf Hitler (L. 1889 M) yang menggunakan cara-cara militeristik seperti menjalankan dua fungsi; militer dan non-militer dalam menjalankan tampuk kepemimpinannya sehingga menyebabkan kurangnya trust masyarakat dan membawa negara Jerman ke jurang instabilitas nasionalnya.
Pemerintah dan elemen masyarakat dalam mengemban tugasnya harus menjalankan prinsip penguatan nilai-nilai karakter pemimpin dan berusaha sekuat mungkin memegang prinsip ini sesuai dengan amanah yang diemban agar tercipta kualitas kepribadian anak bangsa yang bisa membawah negara ini ke arah perubahan yang lebih baik ke depannya.
Metode penelitian dalam disertasi ini adalah metode kualitatif. Sedangkan metode penafsiran yang digunakan adalah metode tafsir maudhu’i.

Item Type: Thesis (Doctoral)
Subjects: 200. Agama > 2X1. Al-qur'an dan Ilmu yang Berkaitan
300. Ilmu Sosial > 303. Proses Sosial > 303.3. Koordinasi dan Kontrol > 303.34. Kepemimpinan
Divisions: Pascasarjana > Disertasi > Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Depositing User: Andi Jumardi
Date Deposited: 20 Aug 2021 05:25
Last Modified: 20 Aug 2021 05:25
URI: https://repository.ptiq.ac.id/id/eprint/67

Actions (login required)

View Item
View Item