Afrizal, Farit (2025) Eksklusivisme dalam Tafsir Abad Ketujuh dan Kedelapan Hijriah (Studi Relasi Muslim dan Nonmuslim serta Implikasinya Terhadap Formulasi Fikih Jihad Abu Abdillah al-Muhâjir). Doctoral thesis, Universitas PTIQ Jakarta.
2025-FARIT AFRIZAL-2021.pdf - Accepted Version
Download (2MB)
Abstract
Disertasi ini menyimpulkan bahwa tafsir dan fikih bersifat dialogis dan intertekstual; keduanya tidak berdiri sebagai otoritas final, melainkan produk historis yang senantiasa diproduksi, ditafsirkan, dan direkontekstualisasi dalam jejaring wacana yang sarat relasi kuasa dan konteks sosial-politik. Penelitian ini menghadirkan kebaruan dengan menyingkap genealogi eksklusivisme tafsir abad ketujuh dan kedelapan Hijriah yang tidak berhenti sebagai refleksi teologis zamannya, tetapi direproduksi dan direkontekstualisasikan dalam formulasi fikih jihad modern. Genealogi tersebut menunjukkan pengaruh mufasir abad ketujuh dan kedelapan Hijriah terhadap Abu ‗Abdillah al-Muhâjir berlangsung dalam tiga dimensi: substansi, metodologi, dan epistemologi. Temuan menunjukkan: eksklusivisme dalam tafsir abad ketujuh dan kedelapan Hijriah tercermin dalam doktrin keselamatan tertutup, abrogasi agama, dan abrogasi ayat damai; serta dipicu empat faktor: krisis politik, teologi superioritas Islam, metodologi naskh, dan konsolidasi identitas umat
Kesimpulan tersebut diperoleh melalui langkah analisis bertahap: pertama, mengidentifikasi bentuk eksklusivisme dalam tafsir abad ketujuh dan kedelapan Hijriah; kedua, memetakan faktor-faktor historis, politis, teologis, dan metodologis yang melatarbelakangi munculnya bentuk eksklusivisme tersebut; ketiga, menelusuri proses reproduksi dan rekontekstualisasi gagasan eksklusif dalam fikih jihad al-Muhâjir; dan keempat, membandingkan konstruksi tersebut dengan wacana tafsir dan jihad kontemporer.
Disertasi ini mendukung kesimpulan Khaled Abou El Fadl, Rudolph Peters (w. 2022), Michael Cook dan Gilles Kepel yang menyatakan bahwa bahwa tafsir eksklusif menciptakan logika binarisasi ―kami versus mereka‖ dan eksklusivisme menjadi dasar pembenaran jihad agresif. Disertasi ini juga sejalan dengan Abdulaziz Sachedina yang menyatakan bahwa klaim superioritas tunggal Islam atas agama lain membentuk sebuah sistem teologi yang menolak legitimasi eksistensial komunitas nonmuslim.
Disertasi ini berbeda dengan pemikiran Hasan al-Bannâ (w. 1949) dan Sayyid Quthb (w. 1966) yang memaknai jihad sebagai instrumen ideologis untuk menegakkan supremasi Islam secara politik melalui konfrontasi terhadap tatanan non-Islami. Penelitian ini juga berbeda dari M Zwemer (w. 1952) dan Mark A Gabriel yang menyatakan bahwa kekerasan yang dilakukan oleh umat Islam berasal dari doktrin Al-Qurán sendiri.
Menggunakan desain penelitian kepustakaan berbasis metode analitis-kritis, penelitian ini memadukan teori kuasa-pengetahuan Michel Foucault dan Critical Discourse Analysis (CDA) Teun A. van Dijk untuk memetakan tafsir sebagai produk teks, kognisi sosial, dan konstruksi ideologis yang melahirkan perangkat kekuasaan hegemonik. Analisis genealogis menelusuri transmisi ide dan rekontekstualisasi epistemologis tafsir abad ketujuh dan kedelapan Hijriah hingga menjadi kodifikasi hukum kekerasan dalam Masâʾil min Fiqh al-Jihâd karya al-Muhâjir.
| Item Type: | Thesis (Doctoral) |
|---|---|
| Subjects: | 200. Agama > 2X1. Al-qur'an dan Ilmu yang Berkaitan |
| Divisions: | Pascasarjana > Disertasi > Ilmu Al-Quran dan Tafsir |
| Depositing User: | Kamir Kamir |
| Date Deposited: | 04 Feb 2026 05:47 |
| Last Modified: | 04 Feb 2026 05:47 |
| URI: | https://repository.ptiq.ac.id/id/eprint/1946 |
