SYADLI, M. (2025) Keterampilan Asertif Berwawasan Gender dalam Tafsir Al-Mishbah. Doctoral thesis, Universitas PTIQ Jakarta.
2025-M. SYADLI-2021.pdf - Accepted Version
Download (2MB)
Abstract
Keterampilan asertif berwawasan gender dalam tafsir al-Mishbah menekankan adanya komunikasi dan interaksi yang aktif antara laki-laki dan perempuan, melakukan kerja produktif dan menghargai setiap perbedaan serta menguatkan persamaan tanpa membedakan jenis kelamin. Kerjasama dan saling mengisi dalam melakukan pekerjaan yang bersifat domestik akan menghasilkan sikap Sakinah yang dilandasi sifat mawaddah, rahmah dan amanah.
Kesimpulan tersebut didapatkan dengan menganalisis teori Genderlect Style yang berkaitan dengan gaya komunikasi laki-laki dan perempuan. Menurut Deborah berkomunikasi secara efektif dalam bahasa yang sama antara antara laki-laki dan perempuan adalah konstruk sosial. Ada proses saling menghormati, saling mendengar, dan saling toleransi, dimana tidak ada superioritas atau inferioritas, dan tidak ada satupun yang merasa benar. Tidak ada superior dan inferior dalam melakukan komunikasi antara laki-laki dan Perempuan. Kesimpulan ini juga berlandaskan pada pandangan Mufassir M. Quraish Shihab yang menjelaskan bahwa landasan dalam berhubungan sesama manusia dalam lingkup domestik adalah dengan menciptakan Sakinah dengan dilandasi Mawaddah, Rahmah dan Amanah, sedangkan dalam lingkup publik landasannya adalah hikmah, mauidzah hasannah, dan Mujadalah.
Disertasi ini memiliki persamaan dengan Horney (1937) yang mengasumsikan gaya komunikasi bukan disebabkan oleh faktor kepribadian yang berbeda, tetapi oleh sosialisasi masyarakat yang berbeda dalam memandang kepribadian. Selanjutnya Carl Jung (1951) yang menjelaskan bahwa setiap orang mempunyai unsur kepribadian Yin dan Yang atau anima dan animus (unsur feminin dan maskulin) yang memiliki perkembangan. Setiap orang memiliki gaya komunikasi netral dan universal yang sama yang dapat dimodifikasi dengan penguatan lingkungan, Kesamaan disertasi ini juga berdasarkan Deborah Tannen (1990) menekankan bahwa komunikasi bisa lebih efektif jika perbedaan-perbedaan tersebut dipahami dan dihormati dibandingkan dilihat sebagai tanda-tanda kesenjangan.perbedaan. Nur Arfiyah Febriani (2014) memiliki kesamaan juga dengan penelitian ini, menjelaskan bahwa harmonisasi komunikasi laki-laki dan perempuan dapat terwujud dari pola penempatan sikap feminin dan maskulin yang dapat dilakukan secara bergantian.
Sedangkan penelitian ini berbeda dengan Freud (1905) yang menjelaskan bahwa gaya komunikasi seseorang bukanlah hasil struktur sosial melainkan pemberian dari Tuhan. Negar Ghahramani (2012) menjelaskan secara biologis hormon dan struktur otak diyakini berperan dalam menciptakan perbedaan gaya komunikasi. M. Syahruddin Amin (2018) menunjukkan bahwa perempuan dan laki-laki pada umumnya menggunakan area otak yang berbeda ketika berbicara atau memproses bahasa.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dimana data-data primer dan sekunder yang bersumber dari Al-Quran dengan referensi kitab tafsir, kitab hadis, buku-buku referensi, jurnal dan disertasi yang berkaitan dengan disertasi penulis. Penelitian studi pustaka dimulai. Untuk memahami teori, konsep, dan hasil penelitian yang mendukung argumen penelitian, dilakukan pemeriksaan dan analisis kritis isi pustaka.
| Item Type: | Thesis (Doctoral) |
|---|---|
| Subjects: | 200. Agama > 2X1. Al-qur'an dan Ilmu yang Berkaitan |
| Divisions: | Pascasarjana > Disertasi > Ilmu Al-Quran dan Tafsir |
| Depositing User: | Kamir Kamir |
| Date Deposited: | 04 Feb 2026 05:55 |
| Last Modified: | 04 Feb 2026 05:55 |
| URI: | https://repository.ptiq.ac.id/id/eprint/1947 |
