repository ptiq

Konsep Nûr Muhammad dalam Kitab Al-Insân Al-Kâmil Karya `Abdul Karim Al-Jîlî (Studi Kasus Dhamîr Huwa dalam Surat Al-Ikhlas)

Rajes, Irfan (2025) Konsep Nûr Muhammad dalam Kitab Al-Insân Al-Kâmil Karya `Abdul Karim Al-Jîlî (Studi Kasus Dhamîr Huwa dalam Surat Al-Ikhlas). Masters thesis, Universitas PTIQ Jakarta.

[thumbnail of Naskah Tesis] Text (Naskah Tesis)
2025-IRFAN RAJES-2022.pdf - Accepted Version

Download (1MB)

Abstract

Penelitian ini mengkaji konsep Nûr Muhammad dalam al-Insân al-Kâmil karya ‘Abdul Karim al-Jîlî dengan studi kasus pada Dhamîr Huwa dalam surah al-Ikhlas. Nûr Muhammad dipahami al-Jîlî sebagai hakikat primordial, sumber penciptaan, dan realitas metafisik yang menjadi manifestasi tertinggi dari esensi Ilahi. Dalam penafsirannya, Dhamîr Huwa tidak hanya menunjuk kepada Allah dalam makna ibârî (eksoterik), tetapi juga kepada Nûr Muhammad dalam makna isyârî (esoterik). Dengan demikian, al-Jîlî menegaskan keterhubungan antara Tuhan dan makhluk melalui figur Insân Kâmil sebagai refleksi kesempurnaan Ilahi.
Temuan penelitian memperlihatkan bahwa pemikiran ini melahirkan perdebatan tajam dalam diskursus teologi Islam, khususnya di Aceh. Gerakan Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf Indonesia (MPTT-I) yang dipimpin Abuya Amran Waly al-Khalidi mendukung perspektif al-Jîlî dan menjadikannya sebagai landasan ajaran tasawuf kontemporer. Namun, fatwa MPU Aceh tahun 2010, 2017, dan 2020 menolak dan melarang pengajaran kitab al-Insân al-Kâmil, dengan alasan bahwa ajarannya berpotensi menyeret kepada paham hulûl dan pantheisme. Polemik ini berimplikasi pada resistensi sosial, diskriminasi, bahkan kriminalisasi terhadap jamaah MPTT-I, meskipun di sisi lain gerakan ini berhasil menumbuhkan semangat religiusitas, memperbaiki moral masyarakat, dan memperluas tradisi zikir di Aceh.
Dalam kajian terdahulu, beberapa penelitian memiliki kesamaan arah dengan riset ini, misalnya studi Muhammad Lazuardi tentang Nûr Muhammad menurut Ibnu ‘Arabi, dan Firdaus Noor yang membandingkan konsep al-Jîlî dengan Muhammad Nafis al-Banjari. Perbedaannya, penelitian ini fokus pada analisis Dhamîr Huwa dalam surah al-Ikhlas yang menjadi basis hermeneutika al-Jîlî. Selain itu, tokoh-tokoh yang mendukung pemikiran al-Jîlî di antaranya Ibnu ‘Arabi, al-Hallaj, Hamzah Fansuri, dan Amran Waly, sementara pihak yang menolak meliputi al-Raniri, ulama salafi-wahabi, serta sebagian anggota MPU Aceh.
Metodologi penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode tafsir isyârî dan analisis tekstual terhadap al-Insân al-Kâmil. Data dikumpulkan melalui studi pustaka, dokumentasi, serta komparasi dengan tafsir ibârî klasik. Analisis dilakukan dengan menelusuri koherensi konseptual Nûr Muhammad dalam kerangka Wahdat al-Wujûd dan problematika penerimaannya di masyarakat Aceh.
Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa tafsir al-Jîlî terhadap Dhamîr Huwa bukanlah bentuk penyamaan Nabi Muhammad dengan Tuhan, melainkan upaya sufi untuk mengungkap kedekatan spiritual antara makhluk dan Khalik. Meski menuai kontroversi, pemikiran ini memperkaya khazanah tafsir sufistik, memberikan relevansi spiritual pada konteks modern, serta menawarkan jalan tengah untuk meredam ketegangan antara kalangan tekstualis dan esoteris dalam Islam.

Kata Kunci: Nûr Muhammad, ‘Abdul Karim al-Jîlî, al-Insân al-Kâmil, Dhamîr Huwa.

Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: 200. Agama > 2X1. Al-qur'an dan Ilmu yang Berkaitan
Divisions: Pascasarjana > Tesis > Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Depositing User: Kamir Kamir
Date Deposited: 12 Apr 2026 07:58
Last Modified: 12 Apr 2026 07:58
URI: https://repository.ptiq.ac.id/id/eprint/2034

Actions (login required)

View Item
View Item