repository ptiq

Analisis Wacana Kritis Terhadap Penafsiran Ideologi Radikal dalam Ayat Jihad

Hasan Ma’ruf, Attabik (2026) Analisis Wacana Kritis Terhadap Penafsiran Ideologi Radikal dalam Ayat Jihad. Doctoral thesis, Universitas PTIQ Jakarta.

[thumbnail of Naskah Disertasi] Text (Naskah Disertasi)
2026-ATTABIK HASAN MA’RUF-2022.pdf - Accepted Version

Download (2MB)

Abstract

Penelitian ini menyimpulkan bahwa penafsiran ideologi radikal terhadap ayat-ayat jihad dalam Al-Qur’an merupakan hasil konstruksi wacana yang tidak lahir secara netral, melainkan dibentuk oleh relasi kuasa, krisis sosial, serta kepentingan politik identitas, sebagaimana dijelaskan dalam kerangka Analisis Wacana Kritis yang dikembangkan oleh Norman Fairclough. Melalui analisis pada tingkat teks, praktik wacana, dan konteks sosiokultural, penelitian ini menunjukkan bahwa penafsiran radikal cenderung menyederhanakan makna jihad secara reduktif dan konfrontatif, dengan menekankan aspek konflik dan pengingkaran terhadap konteks historis serta tujuan etis syariat. Pola ini berbeda secara signifikan dengan pendekatan moderat yang menafsirkan jihad secara komprehensif, kontekstual, dan berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan. Oleh karena itu, pendekatan moderat yang berpijak pada prinsip wasathiyah dan maqâshid as-syarî‘ah dinilai lebih autentik, inklusif, dan relevan bagi masyarakat Indonesia yang plural dan multikultural.
Kesimpulan tersebut diperoleh melalui analisis mendalam terhadap praktik penafsiran ayat-ayat jihad menggunakan Analisis Wacana Kritis (AWK) model Norman Fairclough. Penelitian ini menelusuri bagaimana wacana radikal diproduksi, disebarluaskan, dan dikonsumsi, khususnya melalui media digital, serta membandingkannya dengan narasi penafsiran moderat. Analisis dilakukan dengan mengkaji aspek linguistik teks, proses sosial dalam pembentukan wacana, serta konteks sosio-kultural yang melatarbelakangi munculnya penafsiran radikal, sehingga terlihat pola distorsi makna dan ideologisasi teks keagamaan.
Penelitian ini menguatkan pandangan para ulama dan cendekiawan Muslim moderat yang menekankan pendekatan maqâshid as-syarî‘ah serta integrasi antara teks dan konteks dalam penafsiran Al-Qur’an. Pemikiran Yûsuf al-Qardhâwî, khususnya dalam karyanya Fiqh al-Jihâd dan maqâshid as-syarî‘ah al-Islâmiyyah, menegaskan bahwa jihad harus dipahami sebagai upaya etis dan defensif yang bertujuan menjaga kemaslahatan, bukan sebagai legitimasi kekerasan agresif. Pandangan ini diperluas oleh Jasser Auda melalui karya Maqasid al-Shariah as Philosophy of Islamic Law, yang menekankan pentingnya pendekatan sistemik dan kontekstual dalam memahami teks keagamaan agar selaras dengan nilai keadilan dan kemanusiaan. Di tingkat lokal, kontribusi ulama Nusantara kontemporer memperkaya perspektif wasathiyah dengan mengintegrasikan tradisi keilmuan klasik dan realitas sosial Indonesia. Selain itu, kerangka teoretis Norman Fairclough dalam Analisis Wacana Kritis diperkuat oleh pemikiran Antonio Gramsci tentang hegemoni—yang menjelaskan bagaimana ideologi bekerja melalui dominasi wacana—serta teori linguistik fungsional sistemik M. A. K. Halliday, yang menempatkan bahasa sebagai praktik sosial. Integrasi pemikiran ini memungkinkan analisis yang lebih tajam terhadap relasi antara bahasa, ideologi, dan kekuasaan dalam penafsiran ayat-ayat jihad, sekaligus membuka ruang bagi rekonstruksi narasi keagamaan yang moderat dan berorientasi pada kemaslahatan umat.
Sebaliknya, penelitian ini mengajukan kritik metodologis terhadap pola penafsiran yang digunakan oleh kelompok ideologis radikal seperti Hizbut Tahrir Indonesia dan Salafi-Jihadis, yang cenderung mengedepankan pembacaan ayat-ayat jihad secara literal, ahistoris, dan sarat kepentingan politik. Metodologi tafsir yang mereka gunakan dinilai problematis karena mengabaikan perangkat hermeneutik klasik seperti asbâbun an-nuzûl, pembedaan konseptual antara jihad dan qitâl, serta kaidah nâsikh–mansûkh, sehingga menghasilkan pemaknaan yang kaku, eksklusif, dan antagonistik terhadap pihak lain. Pola penafsiran semacam ini tidak hanya menyederhanakan kompleksitas pesan Al-Qur’an, tetapi juga menjauh dari tradisi tafsir klasik dan moderat yang menempatkan jihad dalam kerangka etika, proporsionalitas, dan kemaslahatan umat, serta menolak penggunaan teks keagamaan sebagai legitimasi dominasi ideologis maupun kekerasan.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK) model tiga dimensi Norman Fairclough, yaitu deskripsi teks, interpretasi praktik wacana, dan eksplanasi praktik sosio-kultural. Data penelitian berupa teks tafsir, doktrin ideologis, serta narasi digital yang merepresentasikan penafsiran ayat-ayat jihad. Melalui pendekatan ini, penelitian mampu mengungkap keterkaitan antara bahasa, ideologi, dan kekuasaan dalam penafsiran radikal, sekaligus menawarkan kerangka penafsiran moderat sebagai upaya pencegahan radikalisme keagamaan.

Item Type: Thesis (Doctoral)
Subjects: 200. Agama > 2X1. Al-qur'an dan Ilmu yang Berkaitan
Divisions: Pascasarjana > Disertasi > Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Depositing User: Kamir Kamir
Date Deposited: 12 Apr 2026 08:46
Last Modified: 12 Apr 2026 08:46
URI: https://repository.ptiq.ac.id/id/eprint/2037

Actions (login required)

View Item
View Item