repository ptiq

Kontroversi Infirâdât Qiraah Ibn Âmir Asy-Syâmî dalam Perspektif Sintaksis Arab

Al Farabi, Muhammad (2021) Kontroversi Infirâdât Qiraah Ibn Âmir Asy-Syâmî dalam Perspektif Sintaksis Arab. Masters thesis, Institut PTIQ Jakarta.

[thumbnail of Kontroversi Infirâdât Qiraah Ibn Âmir Asy-Syâmî dalam Perspektif Sintaksis Arab] Text (Kontroversi Infirâdât Qiraah Ibn Âmir Asy-Syâmî dalam Perspektif Sintaksis Arab)
2021-MUHAMMAD AL FARABI-2017.pdf - Accepted Version

Download (1MB)

Abstract

Kesimpulan tesis ini ialah adanya kontroversi infirâdât dalam perspektif sintaksis Arab yang menerpa qiraah Ibn Âmir asy-Syâmî nyatanya tidak berdampak pada tereduksinya ke-mutawâtir-an qiraah ini. Qiraah Ibn Âmir asy-Syâmî tetap legal digunakan dalam tilawah (bahkan dalam salat) serta tidak dapat ditolak eksistensinya walau kritikan datang silih berganti.
Dalam penelitian ini, qiraah Ibn Âmir asy-Syâmî dipilih menjadi sorotan inti lantaran tidak sedikit ulama terkemuka di bidang ilmu-ilmu Al-Qur´an dan sintaksis Arab yang menggugat validitas qiraah Ibn Âmir asy-Syâmî ditinjau dari perspektif sintaksis Arab.
Tesis ini sejalan dengan konsep Madrasah Kufah yang memposisikan qiraat sebagai referensi penting bagi sintaksis Arab. Beda halnya dengan Madrasah Basrah yang melegitimasi qiraat menggunakan formula-formula linguistik sebagai filter. Maksudnya, segala cara baca qiraat yang sejalan dengan formula linguistik akan mereka terima, sedangkan yang tak sejalan akan mereka tolak serta melabelinya sebagai bacaan yang syâdzdz.
Tesis ini menolak pendapat Ibn Jarîr ath-Thabarî (224-310 H), Ibn Khâlawaîh (W. 370 H), Abû Alî al-Fârisî (288-377 H), Jârullâh az-Zamakhsyarî (467-538 H), Ibn „Athiyyah (481-540 H), dan Ibn Abî Maryam (W. selepas tahun 565 H) yang mana di antara mereka ada yang mengklaim
qabîh (buruknya) salah satu cara baca yang diriwayatkan dalam qiraah Ibn Âmir asy-Syâmî. Ada juga yang tidak terang-terangan menyatakan qabîh, namun “mempertanyakan” legitimasi cara baca ayat terkait lantaran kaidah yang digunakan merupakan kaidah daif dalam perspektif sintaksis Arab.
Sedangkan penelitian tesis ini memiliki kesamaan pendapat dengan al-Qâsim bin Fîrruh asy-Syâthibî (533-590 H), Ibn Mâlik (600-672 H), Abû Hayyân (654-745 H), Labîb as-Saîd (1914-1988 M), Sâmî Abd al-Fattâh Hilâl (L. 1960 M), dan Abd al-Azîz bin Alî al-Harbî (L. 1965 M) yang membela keabsahan cara baca yang diriwayatkan oleh qiraah Ibn Âmir asy- Syâmî.
Hal menarik yang ditemukan penelitian ini ialah adanya ragam diksi yang dilontarkan ulama dari fraksi pengkritik qiraah Ibn Âmir asy-Syâmî. Ada yang mengkritiknya menggunakan diksi qabîh, daif, dan diksi lainnya. Hal menarik lainnya ialah ditemukannya ragam pembelaan keabsahan qiraah Ibn Âmir asy-Syâmî, dimulai dengan pendekatan sintaksis Arab, rasm utsmânî, sampai pendekatan transmisi.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode ilal wujûh al-Qirâ´ât (argumentatif variasi qiraat). Sedangkan pendekatan yang digunakan ialah pendekatan induktif.

Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: 200. Agama > 2X1. Al-qur'an dan Ilmu yang Berkaitan
Divisions: Pascasarjana > Tesis > Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Depositing User: Andi Jumardi
Date Deposited: 18 Aug 2021 08:57
Last Modified: 18 Aug 2021 08:57
URI: https://repository.ptiq.ac.id/id/eprint/26

Actions (login required)

View Item
View Item