repository ptiq

Kontekstualisasi Nilai-Nilai Ibadah Sa’i dalam Pendidikan Keluarga Perspektif Al-Qur’an

Bukhori, Bukhori (2019) Kontekstualisasi Nilai-Nilai Ibadah Sa’i dalam Pendidikan Keluarga Perspektif Al-Qur’an. Doctoral thesis, Institut PTIQ Jakarta.

[thumbnail of Kontekstualisasi Nilai-Nilai Ibadah Sa’i dalam Pendidikan Keluarga Perspektif Al-Qur’an] Text (Kontekstualisasi Nilai-Nilai Ibadah Sa’i dalam Pendidikan Keluarga Perspektif Al-Qur’an)
2019-BUKHORI-2015.pdf - Accepted Version

Download (2MB)

Abstract

Kesimpulan disertasi ini adalah bahwa: kontekstualisasi nilai nilai Sa’i dalam al-Qur’ân ditemukan dalam dua aspek, yaitu pendidikan karakter keluarga dan pendidikan peran anggota keluarga. Integrasi kedua aspek ini dapat membangun keluarga ideal dan harmonis karena masing-masing anggota keluarga memahami peran dan fungsinya masing-masing.
Pendidikan karakter keluarga yang ditemukan dalam ibadah Sa’i diantaranya adalah: 1.Pendidikan karakter yang berhubungan dengan dimensi spiritual, seperti: tawakkal, kesabaran dan kepasrahan 2.Pendidikan karakter yang berhubungan dengan dimensi emosional, seperti: kedisiplinan, kerja sama, saling percaya dan koperatif. 3.Pendidikan karakter yang berhubungan dengan lingkungan sosial, seperti: interaktif, empatik, dan toleransi.
Sedangkan pendidikan peran anggota keluarga dalam ibadah Sa’i yaitu: 1. Pendidikan peran ayah, meliputi peran ayah sebagai fasilitator, pelindung, dan pemberi teladan. 2. Pendidikan peran ibu, meliputi peran ibu sebagai pendidik, pengayom dan pemberi keteladanan 3. Pendidikan peran anak, meliputi peran anak sebagai penguat relasi harmonis ibu dan ayah (qurrata a’yun), pelipur lara, pemberi semangat, dan merawat orang tua pada usia senja.
Disertasi ini memiliki kesamaan pendapat dengan: Ali Syariati (1977-1979), Nazwar Syamsu (1983-1999) dan Muhammad Quraish Shihab (1994-1998), mereka sependapat bahwa Sa’i syarat dengan makna kemanusiaan. Makna tersebut tak hanya terbatas pada persamaan nilai antar perseorangan dengan yang lain tetapi mengandung makna yang jauh lebih dalam dari sekedar persamaan tersebut. Sa’i mencakup seperangkat nilai-nilai luhur yang seharusnya menghiasi jiwa pemiliknya. Kemanusiaan menjadikan makhluk ini memiliki moral serta berkemampuan memimpin makhluk-makhluk lain mencapai tujuan penciptaan. Kemanusiaan mengantar menyadari bahwa ia adalah makhluk dwi dimensi yang harus melanjutkan evolusinya hingga m mengantarnya sadar bahwa ia adalah makhluk sosial yang tidak hidup sendirian dan harus bertenggang rasa dalam berinteraksi.
Temuan Disertasi ini berbeda dengan pendapat: Socrates (460-399 SM), Immanuel Kant (1724-1804) dan Nikola Tesla (1856-1943). Kesemuanya hidup dalam keadaan lajang sampai akhir hayatnya, Sebagian pemikir yang tidak terkungkung dalam tradisi monastik memilih membujang dengan alasan-alasan berbeda. Trauma yang hebat, juga kegamangan menjalani hidup bersama orang lain, kadang menjadi penyebabnya. Sains, etika, pengetahuan modern dari empirisisme, rasionalisme, hukum gravitasi, prinsip negara hukum, hingga listrik dan komputer sebagian berasal dari buah pikiran orang-orang yang memilih jalan pedang untuk terus seorang diri sepanjang hayat. Khazanah intelektual Barat punya daftar panjang pemikir dan ilmuwan yang jadi bujangan seumur hidup seperti yang telah di jelaskan di atas.
Metode penelitian yang dipakai adalah kualitatif dan kepustakaan (library research), bersifat analisis deskiptif dengan pendekatan filosofis. Pendekatan filosofis dibutuhkan untuk mengungkap landasan filosofis ibadah Sa’i sebagai dasar konsep pendidikan keluarga.

Item Type: Thesis (Doctoral)
Subjects: 200. Agama > 2X1. Al-qur'an dan Ilmu yang Berkaitan
200. Agama > 2X4. Fiqih, Hukum Islam > 2X4.1. Ibadah
2X4. Fiqih, Hukum Islam > 2X4.1. Ibadah
300. Ilmu Sosial > 370. Pendidikan
Divisions: Pascasarjana > Disertasi > Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Depositing User: Andi Jumardi
Date Deposited: 20 Aug 2021 05:18
Last Modified: 20 Aug 2021 05:18
URI: https://repository.ptiq.ac.id/id/eprint/66

Actions (login required)

View Item
View Item