Misbahudin, Ubu (2025) Metode Musyârakah Sebagai Upaya Merekonsiderasi Phallosentris dan Implikasinya Terhadap Stereotip Tafsir Patriarki. Doctoral thesis, Universitas PTIQ Jakarta.
2025-UBU MISBAHUDIN-2022.pdf - Accepted Version
Download (1MB)
Abstract
Penelitian ini menyimpulkan bahwa metode musyârakah dalam penafsiran al-Qur’an menghadirkan ruang tafsir yang lebih adil, setara, dan representatif. Dengan menggabungkan dialog antara mufassir laki-laki dan perempuan, metode ini mampu menyeimbangkan bias tafsir klasik yang selama berabad-abad cenderung berpihak pada pengalaman laki-laki semata. Kecenderungan phallosentris yang memusatkan makna pada pengalaman laki-laki dapat dikoreksi melalui pendekatan kolaboratif. Musyârakah tidak hanya sekadar menghadirkan alternatif baru, tetapi juga berfungsi sebagai jembatan rekonstruksi untuk menggeser tafsir patriarkis menuju penafsiran yang lebih inklusif.
Kesimpulan tersebut diperoleh dengan cara kerja metode musyârakah, sebagai berikut: pertama, menemukan dan menegaskan prinsip ajaran Islam sebagai pondasi pemaknaan. Kedua, menemukan gagasan utama yang terekam dalam teks-teks yang akan kita interpretasikan. Ketiga, menurunkan gagasan teks yang lahir dari langkah kedua kepada jenis kelamin yang tidak disebutkan dalam teks.
Disertasi ini berbeda pandangan dengan Rifat Hasan (1990) yang menyatakan bahwa mufasir laki-laki cenderung phallosentris. Melalui metode musyârakah, penulis menemukan mufassir seperti M. Quraish Shihab (1996), Mustafa Hasbi Assidiqi (2002) adalah mufasir yang responsif genderr (seteril dari bias gender).
Disertasi ini mendukung metode tafsir terdahulu yang menjadi landasan metode musyarakah ini, yaitu: pertama, Metode Tafsir Maudu’i oleh Ahmad As-Sa’id al-Kumi (1981). Kedua, Metode Tafsir Muqaran oleh al-Farmawi. Ketiga, Metode Tafsir Mubâdalah oleh Faqihudin Abdul Qodir (2008-2009). Keempat, Metode Tafsir Gender Writing oleh Nur Arfiyah Febriani (2024). Metode tersebut memiliki kesamaan dalam pendekatan tematik, kontekstual, dan progresif. Kelimanya berupaya menafsirkan al-Qur’an dengan mempertimbangkan realitas sosial dan isu-isu kontemporer, seperti keadilan, kesetaraan gender, dan keberagaman. Mereka sama-sama mengkritisi keterbatasan tafsir klasik serta mengedepankan pendekatan interdisipliner dan partisipatif, baik melalui kajian akademik maupun keterlibatan masyarakat luas. Adapun keunggulan metode musyârakah yaitu bersifat kolaboratif, responsif terhadap realitas sosial, dan berdampak langsung pada perubahan di masyarakat. Sementara keempat metode lainnya lebih bersifat akademis atau individual, musyârakah memperluas proses tafsir menjadi sebuah gerakan sosial berbasis komunitas.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan termasuk penelitian library receart yang membahas metode penafsiran terkait relasi gender untuk menjadi landasan filosofis tertkait dalam bahasan metode tafsir musyârakah.
| Item Type: | Thesis (Doctoral) |
|---|---|
| Subjects: | 200. Agama > 2X1. Al-qur'an dan Ilmu yang Berkaitan |
| Divisions: | Pascasarjana > Disertasi > Ilmu Al-Quran dan Tafsir |
| Depositing User: | Kamir Kamir |
| Date Deposited: | 04 Feb 2026 03:51 |
| Last Modified: | 04 Feb 2026 03:51 |
| URI: | https://repository.ptiq.ac.id/id/eprint/1941 |
